Apakah Salah Ketika Banjir Itu Datang?
Ketika semua berubah seketika, disaat takjub memandang ketika alam mulai murka. Oh … beginikah kotaku, maafkan aku wahai alam. Aku tak pernah berniat sekalipun menyakitimu. Aku hanya ingin bersikap profesional, profesional yang terkadang gila. Ini hanya sebuah tuntutan kerja. Kemana lagi aku akan menghidupi keluarga, haruskah aku berlari menopang beratnya beban dipundakku. Hanya kau lah tempatku meraih harta, maafkan aku yang tak pernah sedikitpun iba. tapi inilah sebuah fakta.. aku tak berdaya. aku hanya seorang yang berada dibawah orang yang berkuasa. disaat aku ingin berhenti, melepaskan semua penat bathin ini, tapi aku tak bisa. bagaimana dengan keluargaku. aku tau ini adalah lumbung harta bagiku, tapi maafkan aku ketika aku sadar bahwa disaat kami bahagia, kau sebenarnya menderita. aku menyadari ketika kerukan-kerukan itu mengoyak kulitmu, perlahan-lahan koyakan itu semakin dalam, sehingga kini membuat sebuah bahkan beberapa gunung yang meliuk kedalam, ibarat sebuah danau diantara timbunan harta.Dan disaat tebasan-tebasan itu membantai dirimu yang dulu berdiri kokoh kini seakan tak berdaya, tempat tinggalmu yang dulu penuh dengan sukacita, kini telah lenyap seketika, hanya sebuah lahan yang gundul merata.Aku hanya menjalankan perintah, aku hanya orang yang terjebak diantara dua pilihan, mungkin aku hanya salah satu dari mereka yang menyadari.






